Makna Penuh Sebuah Teks Drama
Lakon-lakon drama adalah karya sastra. Oleh karena itu, setiap akademisi bisa mempelajari. Akan tetapi, hal yang tidak bisa dilupakan bahwa drama tersebut di tulis untuk dipagelarkan (bdk Asmara, 1983 : 22). Dengan demikian, setiap usaha analisis drama harus dilandasi kesadaran bahwa sebuah karya drama memang ditulis untuk dipentaskan. Pengarang menulis drama itu dengan membayangkan action dan ucapan para aktor di atas panggung. Jadi, dialog dan action itu adalah bagian yang sangat penting. Hal itu berbeda dengan karya puisi dan prosa (cerpen, novel) yang dapat dihidangkan begitu saja pada pembaca setelah usai ditulis oleh pengarangnya. Oleh sebab itu, keistimewaan drama dibandingkan dengan karya lain memang terletak pada tujuan pengarang yang tidak hanya ingin berhenti berkomunikasi dengan pembacanya pada tahap pembeberan imajinasi tokoh dan berbagai peristiwa. Pengarang biasanya sekaligus ingin melanjutkan komunikasi dengan audiensinya itu dengan menghidupkan tokoh dan peristiwa tersebut di atas panggung (bdk Soemanto, 2001 : 8 ; Hassanudin, 1996 : 1).
Dengan kata lain, sastra lakon memang baru mempunyai makna penuh apabila karya tersebut dipentaskan. Hal ini terjadi karena sebuah teks lakon tidak hanya berhenti pada konsep atau simbol-simbol verbal yang berupa jagad kata (a verbal world) seperti pada puisi atau novel, tetapi juga berisi jagat yang seolah-olah bisa terlihat (visual), terdengar (audible), bahkan terasakan (tangible) (Sumanto, 2002 : 6). Dengan kata lain, teks tersebut hanya dapat dinikmati secara sempurna apabila dipanggungkan. Oleh karena itu, analisis sebuah teks drama harus memperhatikan pada pentingnya kehadiran teks samping yang terdapat dalam drama tersebut. Melalui analisis teks samping atau petunjuk lakon itulah, seorang pembaca dapat sekaligus membayangkan pementasannya. Hal ini dipertegas oleh Luxemburg dkk (1984 : 158) yang menyatakan bahwa jika teks drama diminati sebagai genre sastra tanpa menyaksikan pementasannya, pembaca akan tetap membayangkan alur peristiwa di atas pentas.
Adapun konstruksi pementasan drama dapat dikaji dengan dimensi yang lain, yakni dimensi seni pertunjukan. Dimensi seni pertunjukan ini dapat pula menjadi sebuah kajian yang mandiri dan terpisah dengan dimensi sastranya. Hal ini mengingat pada hakikatnya, drama memiliki dua dimensi yang sama-sama penting nilainya, yakni dimensi satra dan dimensi seni pertunjukan.
Sebagai kemungkinan pemberi penafsiran kedua, dimensi seni pertunjukan pada drama mempunyai keunggulan dan kelemahan. Dalam dimensi seni pertunjukan, drama dapat memberi pengaruh emosional yang lebih besar dan terarah pada penikmat dan atau audiensnya. Dengan menyaksikan acara secara langsung dan konkret peristiwa di atas panggung, penikmat akan dengan mudah tergugah emosinya karena aktor dapat menjalin komunikasi secara langsunng dengan audiensnya (bdk, Hassanudin, 1999 ; Dewojati : 2003).
Namun, kelemahannya, tidak seperti karya prosa dan puisi, pertunjuksn drama tidak dapat dinikmati untuk kedua kalinya dengan suasana dan situasi emosi yang sama, karena tidak pernah ada dua pementasan yang tersaji sama persis dan mampu menyajikan keseragaman efek psikologis penontonnya (bdk Hassanudin, 1999 : 13). Jadi, meskipun dalam sebuah pementasan menggunakan teks drama, aktor dan grup yang sama, sebuah pemanggungan drama biasanya tidak mungkin bisa sama jika dipentaskan kembali pada kesempatan yang berbeda. Hal itu karena improvisasi dan emosi yang terbangun dalam pementasan bisa berbeda setiap saat.
Selanjutnya, kajian drama sebagai bagian dari seni pertunjukan juga akan sangat berbeda penyajiannya dibandingkan dengan kajian drama sebagai genre sastra, baik dari sudut pandang metodologi (langkah kerja), landasan teori, maupun out put (hasilnya). Sebagai gambaran, beberapa tawaran cara pengkajian drama dari dimensi pemanggungan ini telah lama dipublikasikan. Di antaranya, pandangan yang cukup populer muncul dari Keir Elam dalam The Semiotics of Theater and Drama (1980), Art Van Zoest bersama Panuti udjiman dalam Serba-Serbi Semiotika (1982), Martin Esslin dalam The Field of Drama (1984), dan Elaine Aston dan George Savona dalam Theatre as Sign System (1991). Keempat buku tersebut kebetulan sama-sama menawarkan semiotika sebagai alat untuk mengkaji pementasan drama, atau lebih popular dengan sebutan teater. Dalam hal ini, teater dipandang sebagai sebuah symbol atsu system tanda. Masing-masing buku tersebut mengemukakan detail operasional yang berbeda-beda dalam mengolah teater sebagai system tanda.
Sebagai contoh, Esslin megemukakan pentingnya peneliti mencermati 7 (tujuh) tanda dalam pementasan drama, yang pertama adalah ikon, indeks dan symbol drama ; kedua, pembingkaian (the frame) ; ketiga, aktor ; keempat, visual dan desain ; kelima, kata/teks (the word) ; keenam, musik dan bunyi ; dan ketujuh adalah panggung dan layar. Adapun Elam menawarkan puluhan kode yang mungkin dapat digali dari sebuah pertunjukan drama.
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa drama merupakan karya multidimensional yang dapat dikaji dari banyak sisi. Kajian dari dimensi sastra maupun seni pertunjukan sama-sama mempunyai peran memperkaya khazanah kritik sastra dan seni pertunjukan.
Dalam khazanah satra Indonesia dikenal sederetan penulis drama modern yang cukup mapan. Mereka antara lain ialah Nasjah Djamin, Kirdjomuljo, Iwan Simatupang, Utuy T. Sintani, Motinggo Busye, Kuntowijoyo, B. Sularto, Sitor Situmorang, Akhudiat, Asrul Sani, Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Remi Sylado, Seno Gumira Ajidarma, Teguh Karya, Noorca M. Massardi, Riantiarno, dan Wisran Hadi. Dalam karya mereka itu tersimpan kekayaan informasi dan inovasi yang dapat menjadi gunung emas sumber penelitian yang tidak habis-habisnya untuk digali. Buku ini berusaha menyajikan teori-teori dan pemikiran-pemikiran yang memang ditawarkan untuk menganalisis drama.
Read more...