Monday, December 12, 2011

Konsep Drama Sebagai Karya Sastra dan Seni Pertunjukan


Sebagai sebuah karya, drama mempunyai karakteristik kuhusus, yaitu berdimensi sastra pada satu sisi dan berdimensi seni pertunjukkan pada sisi yang lain (Damono, 1983, bdk hasanuddin, 1996 : 7). Selama ini, hiruk-pikuk pembicaraan tentang drama biasanya lebih banyak terfokus pada produk pementasan atau pertunjukannya. Resensi dan kritik di media massa rata-rata hanya berhenti pada pemaknaan terhadap nilai estetika drama ketika dieksekusi di atas panggung. Dengan demikian, keberhasilan drama seolah-olah hanya digenggaman para aktor, sutradara, dan penata pentas sebagai eksekutornya. Padahal, selain action, ”nyawa” drama juga terdapat pada text play atau teks dramanya.

Sebuah drama diciptakan selain bertujuan untuk menghibur juga memberikan kegunaan kepada pembaca (jika drama tersebut ditulis) dan kepada penonton (jika drama tersebut dipentaskan). Sayangnya, hingga kini, kritik teks drama sebagai bagian kritik sastra tidak begitu popular, terkesan jalan di tempat, dan terkurung di ranah akademik. Di sisi lain, pada dasarnya, genre puisi, prosa, dan dramamempunyai kedududkan yang sama penting dalam jagad kesusastraan. Plato dan Aristoteles membagi genre sastra itu pada tiga kelompok utama, yakni lirik, epic, dan dramatik (Frey, 1957 : 299 ; Welek dan Warren, 1968 : 325). Oleh karena itu, pembicaraan mengenai ketiga genre itu seharusnya berimbang. Selama ini, penelitian mengenai drama sebagai genre sastra masih tidak memadai jika dibandingkan dengan kedua genre lainnya. Hal ini dapat dibuktikan pada jumlah penelitian terhadap genre drama yang sangat terbatas jumlahnya.

Selain itu, pembicaraan tentang drama yang muncul di tengah masyarakat lebih banyak terfokus pada pementasan atau seni lakonnya. Padahal, sesungguhnya drama sendiri mempunyai dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi pemanggungan. Masing-masing dimensi dalam drama tersebut dapat dibicarakan secara terpisah untuk kepentingan analisis (Hassanudin, 1996 : 9).

Sejalan dengan itu, Damono dalam Kesusastraan Indonesia modern (1983) mengemukakan bahwa drama mempunyai 3 unsur yang sangat penting yakni unsur teks drama, unsur pementasan, dan unsur penonton. Lebih lanjut, Damono juga mengungkapkan bahwa apresiasi masyarakat yang sangat minim terhadap sastra drama disebabkan oleh para penonton drama yang biasanya datang pada pementasan tanpa bekal pembacaan teks drama itu sebelumnya. Sesungguhnya, pembacaan teks drama bagi penonton, sangat penting sebagai perlengkapan tambahan karena mampu memberikan dua pengalaman sekaligus. Pengalaman pertama adalah hasil pertemuannya dengan lambing tertulis yang berbentuk teks drama, sedangkan pengalaman kedua berupa pengalaman yang ditawarkan oleh pementasan (Damono, 1983 : 149 – 150). Kegagalan sebuah pementasan drama tidak selalu diartikan kegagalan drama sebagi teks sastra. Sebagai contoh, kegagalan pementasan karya Shakespeare, Anton Chekov, Samuel Beckett, atau Ionesco, tidak akan pernah memudar karya mereka sebagai masterpiece dalam sastra drama. Oleh karena itu, baik pembicaraan maupun penelitian drama sebagai teks sastra adalah kegiatan yang syah (Damono, 1983 : 150 – 151).

0 comments:

About This Blog













ShoutMix chat widget


Translate

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP